Senin, 13 Juli 2026

Stigma negatif terhadap Ilmu Kebatinan

Sejak lama kita sering mendengar pendapat bahwa Ilmu kebatinan yang umumnya dipelajari oleh kaum Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME dinilai negatif sebagai ilmu perdukunan, diambil dari asal kata Dukun yang diartikan dalam bahasa Jawa : "yen ora udhu ora dirukun" ( kalau tidak membayar/mengorbankan sesuatu, tidak akan dirukun dalam arti ditolong atau dikenal apalagi diperhatikan), dan kalimat itu ditujukan ke pada orang-orang "pintar" yang dianggap mampu melakukan hal-hal ghoib dalam memberikan pertolongan kepada siapa saja yang mengalami penderitaan, dengan sebelumnya harus membayar biaya tertentu yang disyaratkan termasuk mengadakan selamatan untuk mengundang roh-roh gaib. 

Stigma semacam ini terlanjur tertanam di sebagian masyarakat kita yang memang masih terbelakang dalam pola pikirnya, untuk itu maka perlu pelurusan makna pada kata Dhukun itu sendiri.

Kata dukun berasal dari bahasa Persia, yakni dehqan atau dehqn, yang merujuk pada sosok cerdas yang menguasai keahlian khusus atau tabib. Seiring waktu, kata ini diserap ke dalam bahasa Melayu sebagai istilah untuk seseorang yang memiliki keahlian pengobatan. Dahulu, kata ini memiliki konotasi positif karena disetarakan dengan tabib atau dokter. Namun, seiring masuknya ilmu kedokteran modern di masa kolonial, maknanya bergeser menjadi peyoratif dan kini identik dengan hal-hal mistis atau klenik.

Menurut KBBI :  Dukun adalah orang yang mengobati, menolong orang sakit, memberi jampi-jampi (mantra, guna-guna, dan sebagainya )

Merujuk pada pendapat di atas jelas seseorang akan mendapat predikat Dhukun apabila dia benar-benar terbukti berilmu tinggi dan luas atau ahli dalam hal-hal tertentu (kalau sekarang disetarakan dengan istilah Profesional).

Mengamati perilaku para penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME (apapun paguyubannya) secara umum mereka berpegang pada kalimat " Sepi ing pamrih rame ing gawe " dalam rangka " Memayu hayuning bawana". yang artinya kurang lebih ... dalam perbuatan selalu dilakukan sebanyak-banyaknya upaya tanpa perhitungan untuk keuntungan pribadi (bahkan seringkali berkorban) demi tercapainya tujuan akhir menyelamatkan dan membahagiakan isi dunia ini.

Jadi lebih tepatnya Kata Dhukun apabila artinya diurai (di kerata basa) adalah bahwa perilaku kaum Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME ...." Tansah udhu ambangun rukun" (selalu berkorban demi membangun kerukunan). Dan itu sudah terbukti secara nyata ketika kita mengamati perilaku kehidupan mereka (misalnya MLKI) yang selalu rukun bersatu walaupun terdiri dari banyak macam paguyuban/komunitas/etnis/bahasa dsb yang sekaligus percontohan konkrit dari Bhinneka Tunggal Ika sebagai pilar bangsa.

Stigma kedua yang seolah sudah menjadi dogma bagi masyarakat kita adalah bahwa Ilmu kebatinan itu "Ilmu Tua" yang hanya pantas dipelajari orang-orang tua dan tidak pantas dipelajari oleh yang muda.  Pendapat ini jelas merupakan pemberangusan sekaligus upaya pemusnahan Ilmu kebatinan itu sendiri  secara massif demi keuntungan sebagian pihak di negri ini. 

Sayangnya malah sebagian besar dari anggota-anggota penikmat Ilmu kebatinan tersebut setuju dengan dogma ini, apalagi yang kebanyakan telah tenggelam dalam suasana "nikmat" yang cukup berakhir pada kata "Syukur"..... tidak perlu berpikir bagaimana cara mewariskannya pada generasi berikutnya, nanti kalau Tuhan berkenan kan akan tau sendiri.

Untuk memerangi dogma seperti di atas penulis ingin meluruskan pemahaman istilah "Ilmu Tua" tanpa merubah kata secuilpun. Yah, ilmu-ilmu kebatinan di tanah air ini memang tergolong "Ilmu Tua" artinya ilmu yang usianya sudah sangat tua, sudah ada ribuan tahun sebelum Masehi (ada kalender yang menyebutkan tahun ini tahun 8325 ada yang th.2937), bahkan sebelum agama-agama asing masuk ke Nusantara ini. Ilmu-ilmu yang pernah menghantar masyarakat negri ini membangun kejayaan di masa lampau lewat zaman-zaman keemasan Kutai Kertanegara, Tarumanegara, Sriwijaya, Medang, Mataram, Kahuripan, Singasari, Majapahit dst. Secuil ingatan masih tersisa, bahwa kekuasaan Majapahit Raya pernah meliputi Asia Tenggara (Malaysia,Kamboja, Pilipina) sampai Madagaskar. Menurut Arysio Santos bahkan jauh sebelum itu Nusantara ini pernah dihuni manusia-manusia super. (Atlantis: The Lost Continent Finally Found)

Ilmu-ilmu tersebut sengaja dihambat bahkan kalau perlu dimusnahkan dengan segala cara pada zaman penjajahan (kolonialis Belanda, Inggris, Jepang), literaturnya dirampas, masyarakatnya (pribumi) direndahkan martabatnya, diadu domba /dipecah belah, diintimidasi, sebagian artefaknya dibawa ke luar negri, sejarahnya dibelokkan dan dipalsukan, budayanya dikebiri dsb. Harapannya tentunya adalah supaya negeri yang kaya raya ini tetap terjajah dan terbelakang.

Marilah kita bangkitkan kesadaran kita bahwa kita ini sebenarnya keturunan dari manusia-manusia beradab dan berilmu tinggi, segala pendapat negatif yang berasal dari jaman penjajahan haruslah segera kita sisihkan, kita gali lebih dalam lagi ilmu-ilmu nenek moyang kita yang oleh Tuhan YME sengaja dihadirkan kembali lewat bertumbuh kembangnya Ilmu-ilmu kebatinan saat ini.

"Lair iku utusaning batin", hal-hal yang nampak terjadi itu dampak dari kondisi batin , jadi kalau kondisi batin kita semakin positif maka segala perbuatan dan produktifitasnya juga akan semakin meningkat dan berkualitas. Dalam lirik lagu Indonesia Raya juga terngiang kata ...bangunlah jiwanya bangunlah badannya... jadi dalam upaya membangun negara, utamakan dulu membangun spiritual SDMnya.

Ok, ilmu kebatinan memang ilmu tua yaitu ilmunya para nenek moyang kita yang pernah menghantar kejayaan negeri kita di mana pun tempatnya, di saat negeri-negeri lain masih terbelakang. Ilmu kebatinan itu untuk semua usia yang harus dipelajari sejak usia dini, seiring pelajaran coding yang harus dipelajari sejak kelas 5 SD.

"Awakening consciousness" telah dimulai di negeri ini, janji Sabdopalon mulai terbukti, jangan terbuai kenikmatan sementara yang dihasilkan oleh ilmu-ilmu import, kenalilah dan resapilah ilmu-ilmu lokal warisan nenek moyang kita yang telah membumi di negeri ini selama berpuluh abad yang lalu. Kolaborasikan dengan ilmu-ilmu baru yang lebih bermanfaat untuk kita abdikan di negeri ini.

Hapuskan stigma-stigma negatif yang selama ini di lekatkan pada ilmu-ilmu kebatinan nenek moyang kita, buktikan bahwa ilmu-ilmu ini jika dipelajari dan diterapkan benar-benar mampu merubah dunia menjadi lebih aman, maju tapi tetap harmonis dan lebih abadi. Tuhan membimbing kita semua.......... Rahayu..... Rahayu sagunging dumadi.

 

Selasa, 24 Juni 2025

Satu Suro 1959 Jawa

Hadir di tahun Ehe windu Kuntara 1959 Saka Jawa, Suro tahun ini memang agak istimewa, dunia sedang heboh dengan perang di Timur tengah, baik antara Rusia dan Ukraina maupun antara Israel dan Palestina yang segera melebar ke Iran, Qatar serta Irak dan entah negara yang mana lagi.... prediksinya secara umum adalah meletusnya Perang Dunia ke III entah jadi apa tidak tinggal tunggu saja berita berikutnya. Belum lagi konflik-konflik lain yang muncul tanpa diduga, seperti konlik antara India dengan Pakistan, Thailand dengan Kamboja dan lainnya.

Dalam negeri sendiri tak kalah heboh,  walaupun Pemilu di semua level udah selesai dan tuntas dengan pelantikan Presiden dan Wakilnya, namun luka-luka kecewa di hati para golongan yang kalah sampai detik inipun belum sembuh, dan ini terbukti dengan dimunculkannya isu-isu pemakzulan Gibran, ijazah palsu maupun skripsi palsu dan lain sebagainya yang tak kunjung reda apalagi selesai.

Selain hebohnya kondisi yang disebabkan oleh ulah manusia sendiri, ternyata alam pun tak henti-henti memberikan bencananya dimana-mana sehingga semakin menambah penderitaan bagi kehidupan. Cuaca ekstreem, gempa bumi, tanah longsor, banjir, rob, tsunami, angin topan, tanah bergerak, gunung meletus dan masih banyak lagi macam bencana bisa terjadi kapan saja dan di mana saja di bumi ini. Dunia sedang tidak baik-baik saja.......

Di kehidupan sosial pun tak kalah heboh... kembali munculnya Covid-19 yang bulan Juni ini sudah merambah Jogya, terjadinya resesi ekonomi global ditandai dengan terjadinya badai PHK di banyak perusahaan, banyak mall bangkrut, beberapa bank memilih tutup, menurunnya daya beli masyarakat karena harga barang-barang merangkak naik. Semua itu semakin mengkuatirkan...

Mengamati semua yang terjadi, sebagai seorang warga penghayat kepercayaan yang begitu tinggi keyakinannya terhadap Tuhan dengan ke Maha Kuasa-anNya, maka sikap yang akan muncul adalah seperti tersirat dalam tembang di bawah ini......

DHANDHANGGULA  SURA 1959 (Hambukani Pranatan Trus  Nyawiji)

Hangleliling jumedhuling warsi

Sewu sangang atus seket sanga

Kang bakal tumeka kiye

Sajak kebak bebendhu

Kang tumiba ing bumi neki

Sawernaning prahara

Luber cacahipun

Krodha ing sawayah-wayah

Tan milah panggonan tlatah miwah janmi

Nuliya padha waspada

 

Pratandhane jaman kang gumanti

Winiwitan reresik ing raga

Dhimen suci kahanane

Marna kukum kang baku

Salah seleh akeh dumadi

Serik kadenangan

Juti sirna sampun

Kahananing alam Donya

Bosak-basik rinusak karsaning Widhi

Sigra nyuwun ngapura

 

Siji Sura ing warsi puniki

Hambukani pranatan sarwa anyar

Kanggo lelakon ing tembe

Nulya padha sumuyut

Sujud mnembah pasrah ing Gusti

Kang masesa jagad

Miwah isinipun

Cumadhong ing Tuntunan-Nya

Mujudken manunggaling kawula Gusti

Rahayu wusananya


Jumat, 09 Mei 2025

Sikap seyogyanya bagi seorang Penghayat Kepercayaan thd Tuhan YME

Perjalanan panjang sejarah penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME (selanjutnya sebut saja penghayat) di negeri kita ini mungkin telah ada sejak manusia pertama tercipta di bumi ini atau setidaknya sejak peradaban manusia mulai tumbuh, mengalami gelombang pasang surut yang tiada henti dari waktu ke waktu sebagaimana keberadaan manusia itu sendiri baik secara fisik maupun secara rasio maupun kejiwaannya. Kelompok-kelompok Penghayat ini berkembang sesuai jamannya, semakin lama semakin banyak jumlah maupun macamnya karena semakin berkembangnya gagasan dan munculnya ajaran-ajaran /wahyu baru sesuai kebutuhan jaman yang menopangnya. Ada yang menyatakan telah ada sejak 10.000, 4000 atau 3000 tahun SM, ada yang menyatakan sejak sepuluh abad SM, semua didasarkan fakta sejarah yang bisa dipercaya karena cukup otentik.

Di jaman penjajahan memang tak pernah terdengar adanya kelompok-kelompok penghayat, yang ada adalah kelompok-kelompok Agama yang tentu saja saat itu mendapat tempat sesuai kepentingan kaum penjajah itu sendiri yang waktu itu membagi masyarakat menjadi 3 golongan strata yaitu nomor 1 golongan Eropa (termasuk si penjajah sendiri) nomor 2 golongan Timur Asing (termasuk semua pembawa Agama dan pemilik strata perekonomian), dan barulah golongan terendah yaitu Pribumi. Di kalangan Pribumi inilah baik itu raja ataupun rakyat jelata merupakan tempat berkembangnya Agama Leluhur atau Agama Lokal yang tentu saja sangat dibatasi perkembangannya atau kalau perlu malah dimusnahkan. Dari kondisi ini maka tertanamlah di hati para pendahulu kita (walau tidak semua) pendapat bahwa semua yang datang dari luar itu nilainya mesti lebih tinggi atau lebih baik daripada yang ada (dibuat) di negri ini. Sampai hari ini masih banyak orang-orang kita (Jawa) yang berdecak kagum kalau misalnya anaknya bisa berbahasa asing, padahal bahasa Jawa nya sendiri belum pandai. Menyebut nama buah-buahan juga merasa lebih keren kalau ada bau asingya, misalnya pepaya thailand, kurma arab, jeruk siam dsb. Termasuk juga keyakinan, kebanyakan masih lebih memilih keyakinan Agama (yang diakui negara) daripada keyakinan berkepercayaan (agama lokal).

Apakah agama lokal itu memang begitu rendah tingkat keyakinannya, atau mungkin dianggap menyesatkan (seperti sering dikatakan banyak orang), sehingga nantinya akan membawa ke neraka...?

Berbicara tentang keyakinan hendaknya harus hati-hati, sebab segala hal yang diyakini manusia akhirnya akan membentuk perilaku si manusia itu sendiri, bisa menjadi semakin baik tapi sebaliknya juga bisa menjadi semakin jahat makin kejam atau ganas. Apalagi kalau terjebak pada perasaan bahwa pendapatnya atau keyakinannya itu sudah paling benar, seringkali muncul pendapat bahwa yang tidak benar harus dikalahkan atau bahkan dimusnahkan. Ada yang mengatakan bahwa kesadaran semacam itu baru sampai ditingkat 3 demensi. Apakah mereka tidak sadar bahwa Tuhan YME itu menciptakan segalanya itu terbagi jadi dua hal yang selalu bertentangan, ada terang ada gelap, ada kiri ada kanan, ada besar ada kecil, ada laki ada perempuan (kalau binatang ada jantan ada betina), ada indah ada jelek, begitu juga ada baik ada buruk, ada benar ada salah....... jadi ciptaan Tuhan itu..... baik buruk, benar salah adalah di dalam kehendakNya. Nah, jadi kalau kita ingin memusnahkan yang kita anggap salah apakah itu tidak menentang kehendak Tuhan...? Sampai dimana keyakinan kita tentang Tuhan...? Sebagai seorang Penghayat tidak layak jika kita terjebak pada sikap seperti di atas, menganggap diri kita benar dengan menyalahkan yang lain, apalagi dengan menebar kebencian.....

Berbicara tentang etnis, ada yang terjebak pada anggapan bahwa karena ia keturunan suatu kaum atau bangsa tertentu yang mayoritas hidupnya berhasil, maka ia merasa bahwa ia termasuk bangsa mulia dan perlu disanjung oleh kaum atau bangsa lain yang hidupnya lebih menderita atau rendah. Kesadaran semacam ini juga perlu dikoreksi, kenapa ? Kita masing-masing terlahir menjadi manusia saja tidak pernah sengaja apalagi bisa memilih. Semisal kita hidup ini terlahir dari seekor binatang atau bahkan misalnya jadi anak setan sekalipun, tidak mungkin kita bisa mengelak....... Kesadaran bahwa kita ini seorang manusia pun tidak pernah kita ketahui sebelumnya semenjak lahir, baru setelah beranjak dewasa..... tau bahwa kita ini manusia.

Untuk sementara sampai di sini dulu kita berbincang, lain waktu kita sambung lagi.... bagi yang ingin melayangkan pertanyaan  silahkan kontak wa di nomor 0852 5762 4559



Selasa, 21 Mei 2024

Pentingnya Menelusuri silsilah LELUHUR

 


Dalam kebudayaan Jawa khususnya, ada penyebutan istilah untuk nama-nama panggilan sebagai penghormatan kepada yang telah melahirkan pribadi kita masing-masing sebagai manusia Jawa, mulai dari Bapak/Ibu yang melahirkan diri kita, Simbah/Eyang yang melahirkan Ayah/Ibu, Buyut, Canggah, Wareng dst. Dalam budaya Jawa diperkenalkan sampai 18 tingkatan ke atas (sampai Trah Tumerah). Sayangnya bagi kita sekarang pada umumnya, sampai Simbah/Eyang saja yang jumlahnya pasti 4 (dari Bapak 2, dari Ibu 2), jarang kita bisa menyebutkan namanya secara lengkap, apalagi Buyut (8 orang), Canggah (16 orang) dst. 

Secara matematis jika dihitung, sampai ditingkat ke 18 saja (Trah Tumerah), jumlahnya sudah mencapai 262.144 orang yang kalau dijumlah semua dari Bapak/Ayah/Ibu sampai Eyang Trah Tumerah (mereka semua andil dalam melahirkan kita masing-masing) jumlahnya menjadi 524.286 orang, bayangkan jika silsilah itu naik dua tingkat lagi, jumlahnya mencapai satu juta lebih (1.048.576 orang), menjadi sangat mungkin jika kita ini keturunan raja/kaisar, nabi, rasul, pahlawan/syuhada atau orang-orang terkemuka dan terkenal yang lain.

Dalam keyakinan kita sebagai penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME ada satu keharusan untuk memuliakan leluhurnya masing-masing (salah satu kewajiban dasar dalam melakukan pencarian "Sangkan paraning dumadi"). Bagaimana mungkin kita bisa  mewujudkan hal itu jika nama nenek/kakek kita saja tidak tahu....? Apalagi untuk mengenal jasa-jasa mereka...? Celakanya, sebagian malah terlanjur memuliakan leluhur bangsa lain yang sama sekali tidak kita kenal kecuali dari "katanya ......"

Tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada mereka yang bergelar Habib (entah benar atau tidak), kebanyakan dari saudara-saudara kami yang Muslim sangat mengelu-elukan mereka sebagai orang yang dianggap masih keturunan Nabi Muhammad SAW, dianggap mereka yang masih keturunan Rasulullah bisa memberikan berkah/safaat bagi kehidupan para pengikutnya. Semua itu tidak ada yang salah karena memang itu yang mereka percayai....

Dalam Al-Kitab banyak tercantum silsilah atau garis keturunan para tokoh baik raja ataupun nabi-nabi dalam banyak tingkatan bahkan sejak Adam pun ada, ini menunjukkan betapa rajinnya mereka mencatat silsilah para leluhur mereka, padahal usia saat itu rata-rata panjang sampai ratusan tahun, sedang bangsa kita yang katanya telah mampu membuat kalender di tahun 911 SM (Empu Hubayun) bahkan ada yang lebih tua dari itu, sekaligus juga tentunya sudah memiliki huruf, ternyata sekarang (hari ini) jarang atau sedikit sekali diantara kita yang mampu mengenal leluhurnya sendiri.

Sehubungan dengan judul di atas penulis juga berusaha mencari tahu keturunan siapakah diri penulis itu sendiri ...? Dengan berbekal data yang ada ditambah dengan ingatan penulis menghimpun informasi dari banyak pihak, termasuk sikap-sikap unik sebagian kecil masyarakat di kampung Jagalan kidul Magetan terhadap penulis saat dia masih kecil, juga cerita-cerita nenek saat itu, juga hasil cross check dengan beberapa web di internet, maka sampailah pada kesimpulan bahwa dari pihak ayah, penulis ini masih keturunan dari seorang kepala desa (wiyoro) di Lorog kabupaten Pacitan bernama Eyang (Canggah) Karyo Menggolo. Adapun dari pihak Ibu penulis masih darah keturunan Eyang (Udheg-udheg) Kyai Gajah Sorengpati yang makamnya di Taman - Madiun yang kalau tidak salah masih keturunan dari Panembahan Senopati pendiri kerajaan Mataram Islam, penulis termasuk garis keturunan  ke 14 dari beliau (sebagai Eyang Ampleng). Benar atau salah Wallahu 'alam bi sabab.

Kalau yang di atas itu benar, maka penulis juga keturunan dari Pangeran Nrang Kusumo (termasuk leluhur yang dimuliakan di kota Magetan), dan itu pernah penulis buktikan secara spiritual, selain karena tertulis dalam silsilah.

Nah, apabila  diantara pembaca ada yang tertarik dengan tulisan ini dan ingin memberikan tanggapan, baik berupa kritik maupun saran, penulis bersedia menerima dengan segala senang hati. Hubungi saja wa penulis di nomor 0852 5762 4559 

Rabu, 24 April 2024

Menatap ke depan demi generasi mendatang

     Baru  saja  kita bersama  menyaksikan sekaligus  mengikuti gelaran Pemilu 2024 yang  secara  tuntas  telah   dinyatakan selesai pada hari Senin tanggal 22 April 2024, ditandai dengan selesainya seluruh rangkaian sidang di Mahkamah Konstitusi yang menghasilkan keputusan final dan bersifat mengikat yaitu ditolaknya seluruh gugatan dari pihak penggugat yang berasal dari kubu 01 dan 03 dan ini berarti bahwa pemenang Pemilu 2024 di Indonesia untuk Pilpres adalah pasangan 02 yaitu Prabowo dan Gibran Rakabuming Raka. Selamat untuk keduanya !!

     Walaupun pelantikan mereka berdua baru nanti bulan Oktober, namun jelas kita rakyat Indonesia akan mengalami era baru, yaitu era kepemimpinan baru dari mulai presiden dan wakil presiden, para menteri, para anggota DPR/DPRD yang akan dilanjutkan dengan pergantian para kepala daerah di seluruh negeri. Bisa saja pergantian kepemimpinan akan menimbulkan banyak pergantian kebijakan, artinya bahwa berbagai peraturan pun akan mengalami perubahan. Walaupun semua macam perubahan itu nantinya dimaksudkan untuk menuju ke hal yang lebih baik, namun pasti juga akan menimbulkan dampak-dampak negatif dipihak lain, dan itu hal yang wajar terjadi.
Bagi para warga penghayat kepercayaan yang benar-benar telah mapan kepenghayatannya tentunya memandang hal semacam di atas sebagai hal yang biasa saja, sebab kata-kata " Ora kagetan, ora gumunan" telah menjadi karakter dalam perilaku sehari-hari. Namun apakah berarti dengan sikap begitu akan menjadikan warga penghayat menjadi "cuek", akan tidak peduli terhadap segala sesuatu yang terjadi...?? Tentu saja bukan begitu !! Dengan pendalaman spiritualnya para penghayat tentunya menjadi sangat peka terhadap segala sesuatu yang terjadi di dunia ini bahkan terkadang dengan sesuatu yang belum terjadi pun getaran frekuensinya sudah tertangkap oleh indera spiritualnya. Sehingga bagi yang tekun dalam menjalani laku tentunya akan mudah/segera menerima sinyal-sinyal petunjuk Tuhan YME untuk melakukan antisipasi dan mitigasi terhadap hal-hal yang akan terjadi kemudian sehingga tidak menimbulkan kerugian.

     Kondisi dunia saat ini sepertinya sedang tidak baik-baik saja, di tengah resesi global yang belum mulai membaik, wilayah Timur Tengah makin membara yang bisa saja membuahkan Perang Dunia ke 3 sebagai petaka yang bisa menghancurkan bumi ini. Dampak penyebaran Covid-19 yang belum seluruhnya tuntas, rupanya bidang medis masih harus bekerja keras demi menghadapi merebaknya beberapa penyakit latent yang terjadi di hampir semua daerah, 

Sebagai seorang penghayat yang telah banyak mengalami pahit getirnya perjuangan dalam mempertahankan dan mengembangkan budaya bangsa baik secara kesukuan maupun secara nasional tanpa harus berkonfrontasi dengan budaya asing yang sebagian justru dipaksakan oleh sebagian bangsa kita sendiri, maka dengan melihat semua perkembangan secara simultan dengan tetap menatap ke depan, penulis tetap yakin dan optimis bahwa dengan berkolaborasi dengan segenap pihak secara cinta kasih, kami bangsa Indonesia akan mampu menggapai segala apa yang telah dicita-citakan sejak jamannya para founding fathers mewujudkan kemerdekaan bangsa ini secara lahir maupun batin, bahkan nantinya bangsa ini juga mampu menjadi mercu suar dunia dengan ikut menciptakan Hayuning Bawana.

    

Rabu, 14 Juni 2023

Mahargya Suro 1957 Jawa

 

Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan YME Indonesia (MLKI) dikenal sebagai Organisasi berskala Nasional yang didirikan mulai tahun 2014 mewadahi bermacam perkumpulan/organisasi penghayat kepercayaan yang mengutamakan aktifitas spiritual (kebatinan, kejiwaan, kerohanian) sekaligus menjadi tempat berkumpulnya aneka komunitas adat dan tradisi  sebagai agama leluhur yang berasal dari berbagai daerah.

MLKI kota Surabaya sejak awal berdirinya di tahun 2015 telah sepakat menjadikan tanggal 1 Suro sebagai hari besar penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME yang diwarisi dari organisasi sebelumnya (SKK, HPK, BKOK) layak untuk diperingati setiap tahun, bahkan di sepanjang bulan Suro para warga penghayat (secara komunitas) dibebaskan memilih hari apa saja dan tanggal berapa saja untuk memperingatinya.

Secara terkoordinasi MLKI kota Surabaya telah membentuk Panitia Suro guna mempersiapkan aneka kegiatan dalam bulan Suro yang akan datang dengan memperhatikan beberapa aspek :

  1. Situasi dunia saat ini yang terancam resesi global dan kemungkinan terjadinya Perang Dunia ke 3 serta prediksi dampaknya bagi masyarakat Indonesia
  2. Situasi dan kondisi masyarakat Indonesia (khususnya kota Surabaya), yang baru bangkit dan berbenah setelah terlanda Covid-19,  yang sedang meningkatkan kewaspadaan menghadapi bahaya Intoleransi, kriminalitas dan Narkoba, yang sedang bersiap-siap mensukseskan Pemilu serentak tahun 2024

Sungguh bukan situasi dan kondisi yang baik-baik saja, perlu pemikiran mendalam dan luas guna menyusun dan mempersiapkan kegiatan-kegiatan bermutu bernuansa spiritual yang dapat dinikmati oleh banyak pihak sekaligus sebagai kontribusi warga penghayat kepercayaan dalam berpartisipasi di era percepatan pembangunan, memberikan keteladanan dalam membangun dan melestarikan budaya santun, luwes, toleran, sabar, cermat dan penuh estetika. 

    Tahun 1957 Jawa ini kami tandai dengan candrasengkala " Pandhita winisik ngarumke praja" yang mengandung arti bahwa para Penghayat Kepercayaan berniat membangun sikap Pandhita (khusuk dan banyak berdo'a ) yang selalu mengingat Tuhan YME dan menyongsong Petunjuk (winisik) agar membuahkan niat dan perbuatan positif yang dapat mengangkat harkat dan martabat (ngarumke) Negara (praja).

    Kegiatan pertama  yang akan dilaksanakan mengawali bulan Suro adalah Gelar Busana Jawa, selain sebagai sarana eksistensi penghayat, juga merupakan ajang penampilan budaya yang bernilai luhur karena hampir di tiap sisi dari bentuk, bahan, warna, dan nama-nama bagian dari busana Jawa (khususnya) memiliki makna dan nilai simbolisnya masing-masing, yang itu semua erat hubungannya dengan filosofi kehidupan di tanah Jawa. Kegiatan ini akan dilaksanakan tepat pada tanggal satu Suro yang bersamaan dengan datangnya 1 Muharram menurut penanggalan Islam.

    Kegiatan ke dua adalah mengingat sejarah sekaligus menghargai jasa para pahlawan/leluhur yang telah meninggalkan banyak warisan positif di bumi Surabaya ini . Kegiatan ini berupa kunjungan ziarah (pisowanan) ke beberapa makam leluhur Surabaya dan makam pahlawan di jl. mayjen Sungkono Surabaya. Kegiatan ini dilaksanakan mulai sore hari sampai selesai, biasanya dengan mengunjungi makam Eyang Wongsonegoro di Bangkingan, Eyang Sawunggaling di Lidah Wetan, Eyang Yudokardono di Jl. Cempaka, Tegalsari, dan juga ke Taman Makam Pahlawan.



    Kegiatan ke tiga ada kaitannya dengan maksud yang terkandung dalam kegiatan ke dua yaitu mengingat sejarah sekaligus menghargai jasa para pahlawan/leluhur yang telah meninggalkan banyak warisan positif, namun dalam bentuk yang lebih konkrit yaitu berupa Jamasan Pusaka. Aktifitas ini sebenarnya juga sebagai pelestarian tradisi masyarakat Jawa khususnya selama bulan Suro. Kegiatan ini akan digelar di pendopo Petilasan mBah Pradah yang lokasinya persis di belakang Sanggar Agung Sapto Darmo Indonesia dua hari menjelang pelaksanaan Ruwat Sukerto Murwokolo. Bagi masyarakat yang ingin mencucikan pusakanya dapat menitipkannya kepada Panitia.

     Ruwat Sukerto Murwokolo merupakan kegiatan berikutnya yang penuh kesakralan, mengingat tujuan yang ingin dicapai secara umum adalah perbaikan nasib dan keselamatan  hidup di masa mendatang bagi para pesertanya. Khusus untuk acara ini Panitia membebankan tidak hanya kepada ki Dalang, tetapi juga di dukung Laku Spiritual para sesepuh/pinisepuh penghayat yang paham akan acara ini (secara sukarela) baik dalam bentuk prosesi, sesaji, lakon pedalangan, mantra dsb. Peserta (orang tua dan yang diikutkan ruwatan) benar-benar diajak bersama-sama menjalani Laku dan berdo'a secara khusuk agar apa yang ingin dicapai semuanya dikabulkan Tuhan YME.