Kisah Pedalangan tentang Murwa Kala

Kepercayaan tentang datangnya malapetaka yang akan menimpa anak sukerta dan orang-orang yang bernasib sial lainnya, itu pada dasarnya berasal dari keyakinan cerita lama, yaitu dari sebuah cerita wayang purwa yang disebut Murwakala atau Purwakala       
Purwa berarti asal atau permulaan, Kala berarti bencana, jadi asal mula dari bencana. Di daerah lain lakon itu disebut juga Dalang Karungrungan atau Dalang Kalunglungan.


         Pada dasarnya cerita itu mengisahkan tentang asal dari lahirnya dewa raksasa bernama Kala dan mengenai kehidupannya selanjutnya. Mengenai cerita di daerah satu dengan lainnya ada berbagai variasi, meskipun tidak prinsipal, karena pada dasarnya berasal dari sumber yang sama.

         Menurut Pakem Pedhalangan, dalam garis besarnya cerita itu adalah sebagai berikut :

Pada suatu ketika Dewa Siwa ( Sang Hyang Siwa atau bathara Guru) bercengkerama dengan permaisurinya yang sangat cantik, yaitu Dewi Uma. Mereka terbang diatas samudera dengan naik lembu tunggangannya bernama Lembu Andhini.
       Saat itu matahari mulai condong ke barat dan sebentar lagi akan terbenam di cakrawala sehingga cahaya langit semakin memperindah suasana. Di atas samudera itu Sang Dewa Siwa melihat  permaisurinya menjadi sangat  cantik menggairahkan, sehingga timbullah hasratnya untuk bersatu rasa (bersanggama). Akan tetapi Dewi Uma tidak berkenan dihati karena bukan saatnya dan bukan pula tempatnya, iapun menolak dan meronta manakala Sang Siwa memaksanya. Karena begitu birahinya maka benih/kama/air mani sang Siwa pun jatuhlah di tengah lautan.
       Setelah beberapa masa benih itu berubah menjadi makhluk aneh yang kian lama kian membesar dan akhirnya menjadi raksasa yang sangat besar dan sakti. Ia naik ke kahyangan Suralaya, tempat bersemayam para dewa, bermaksud untuk menemui raja para Dewa yaitu  sang Dewa Siwa sendiri.
       Setelah sampai ditempat yang dituju dan bertemu dengan Dewa Siwa, ia bertanya siapakah orang tua yang telah menjadikan/menurunkannya sehingga ia terlahir ke dunia dan karena merasa lapar ia minta agar ditunjukkan manusia-manusia yang mana dan bagaimanakah yang diperkenankan untuk menjadi mangsanya.
Dewa Siwa mengakui bahwa dia si raksasa adalah puteranya sendiri, dan kepadanya diberi nama Bathara Kala (Dewa Kala).
       Untuk makannya, Siwa menyebutkan macam-macam manusia yang termasuk anak sukerta (yang memiliki sial).

       Maka Dewa Kala segera minta diri turun ke dunia untuk mencari mangsa, yaitu manusia-manusia yang telah ditentukan baginya. Ia menuju ke Danau Madirda.
       Sepeninggal Dewa Kala, atas pertimbangan Narada, Sang Hyang Siwa sadar bahwa jumlah manusia yang disebutkan tadi terlalu banyak, sehingga apabila tidak dihalangi mungkin manusia akan punah dari muka bumi.
Sang Siwa lalu memerintahkan kepada Dewa Narada agar menugaskan Dewa Wisnu untuk menjadi dalang membatalkan perintah yang telah diberikan kepada Dewa Kala. Dewa Narada ditugaskan menjadi panjak (penyanyi), Dewa Brahma menjadi penabuh gender (semacam gamelan).
        Dewa Wisnu kemudian memakai nama Dalang Kandhabuana, bertugas meruwat manusia-manusia sukerta yang ditakdirkan menjadi umpan Dewa Kala. Dengan demikian mereka dapat diselamatkan.
        Diceritakan pula, bahwa pada waktu itu ada seorang janda di desa Medang Kawit, bernama Sumawit. Ia memiliki seorang anak laki-laki. Menjelang remaja bernama Joko Jatusmati. Karena ia anak tunggal, supaya selamat ia disuruh ibunya pergi mandi di Danau Madirda.
         Patuh pada perintahnya, ia lalu pergi ke danau tersebut. Setelah sampai di danau itu ia berjumpa dengan Dewa Kala. Dewa Kala minta kesediaan anak itu untuk dimakan, karena ia termasuk manusia yang menjadi mangsanya.
          Sadar ada bahaya mengancam, Joko segera melarikan diri. Sedangkan Dewa Kala mengejar kemana saja ia pergi. Ia bersembunyi di antara orang-orang yang sedang mendirikan rumah. Tapi akhirnya diketahui oleh Dewa Kala, maka kejar-kejaran terjadi dirumahitu.
         Akhirnya rumah menjadi roboh. Pemuda itu lalu bersembunyi di tempat orang yang sedang membuat obat yang menggunakan pipisan. Disini pun ia diketahui oleh Dewa Kala.
Dalam usahanya untuk menghindarkan diri, ia terantuk pada pipihan sehingga benda itu patah. Selanjutnya ia bersembunyi di dapur yang kebetulan sedang dipakai memasak nasi. Di sini pun terjadi kejar-kejaran pula, sehingga menyebabkan dandang (tempat untuk menanak nasi) roboh.
        Joko Jatusmati melarikan diri ke luar melalui halaman depan rumah. Di dalam usahanya mengejar pemuda itu di tengah halaman, Dewa Kala terjatuh, karena terlilit batang waluh (cucurbita pepo) yang kebetulan ditanam di halaman tersebut.
Akibatnya ia kehilangan arah ke mana mangsanya melarikan diri. Bersamaan dengan itu, di desa Medang Kamulan terdapat seorang laki-laki bernama Buyut Wangkeng. Ia memiliki anak perempuan tunggal bernama Rara Pripih yang baru saja dinikahkan.
Akan tetapi pengantin baru itu belum rukun, bahkan sang isteri minta kepada ayahnya agar diceraikan dari suaminya. Namun keinginannya tidak disetujui oleh ayahnya. Akhirnya ia membatalkan niatnya setelah ayahnya mengabulkan permintaannya untuk mengadakan ruwat dengan tertunjukan wayang.
        Buyut Wangkeng segera menyuruh menantunya mencarikan dalang yang bersedia mempergelarkan pertunjukkan wayang untuk meruwat anaknya. Maka dipanggilah Dalang Kandhabuana.
Pada waktu yang telah ditetapkan pergelaran wang terus dimulai. Banyak sekali orang yang melihat. Diantara penonton itu terdsapat pula Joko Jatusmati, demikian juga Dewa Kala. Akhirnya Dalang Kandhabuana dapat menyelesaikan tugasnya.
Dalang penjelmaan Dewa Wisnu itu berhasil menghalang-halangi Dewa Kala dalam hal mengejar manusia yang menjadi mangsanya. Batara Kala dapat dihalau ketempat asalnya. Demikian pula anak buah dan pengikutnya, seperti kelabang, kalajengking dan lain-lainnya. Setelah itu bumi menjadi aman kembali.
         Waktu hendak kembali ke tempat asalnya, baik Dewa Kala, Durga dan lainnya minta bagian dari sajian yang telah disediakan. Dewa Kala minta batang pisang, itik dan burung merpati. Durga minta kain sindur dan bangun tulak.
Kecuali itu tokoh lain seperti Dewi Sri dan Sadana, Kebo Gegeg dan Kebo Celeg dan lain-lain (mereka bukan tokoh jahat) minta bagian pula. Mereka berperan dan memberi petuah agar mereka yang diruwat memperoleh keselamatan.
         Dengan demikian maka sebagai unsur pokok di dalam upacara ruwatan selanjutnya, di samping orang menyediakan berbagai macam sajen dan syarat lainnya yang harus dipenuhi, orang harus mengadakan pergelaran wayang purwa, dengan cerita khusus Murwakala, cerita riwayat kehidupan Dewa Kala.


Terima kasih untuk Bapak  Mawan Suganda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar