SESAJI RUWATAN SUKERTO

Sesaji (sajen Jw.), merupakan bentuk sesajian (sesuatu yang disajikan) atau hidangan yang dibuat untuk mengingat (meruhi Jw) kepada sesuatu (bisa roh leluhur, bisa dewa, dan bisa juga Tuhan) yang dianggap lebih berkuasa daripada sang penyaji sebagai manusia biasa, hal semacam ini banyak dan seringkali disalah artikan seolah-olah dipersembahkan.

Sesajian/Sajen itu dibuat mengiringi keinginan atau harapan yang terkandung saat itu misalnya ketenteraman, kemuliaan, kesuksesan, keselamatan (dalam segala hal), dll. Mengapa sajen tersebut mayoritas dibuat berupa makanan yang banyak jumlah dan jenisnya? Ya karena pada akhir kita menyampaikan doa secara bersama-sama (orangnya banyak) sajen itu dimakan bersama-sama pula, ada pula yang diperebutkan sehingga menambah kemeriahan suasana. 

Keinginan/harapan-harapan tersebut dituangkan tidak dalam bentuk verbal akan tetapi dituangkan secara simbolik dalam bentuk nama/sebutan sajian, bentuk sajian, warna, jumlah serta jenisnya. (Ingat saat Anda pacaran dulu, untuk mengungkapkan kata cinta seringkali diwujudkan dengan menyerahkan sekuntum bunga, tidak dengan kata-kata)

Dalam upacara Ruwatan Sukerto dituntut adanya Sesaji Ruwatan yang dulunya terdiri dari banyak macam jenis sesaji (sekitar 60 jenis), namun seiring dengan perjalanan jaman dimana barang-barang yang dibutuhkan baik jenis maupun jumlahnya semakin langka, maka wujud maupun jenis serta jumlah sesaji tersebut semakin surut semakin sederhana.

Di sini ingin penulis perkenalkan pelbagai jenis sesaji Ruwatan yang sempat terekam dan sering disediakan saat kami menyelenggarakan Ruwatan.

1. Tuwuhan         : 

a.  Pohon pisang dengan ontong/bunganya 2 pohon

b. Tebu wulung 2 pohon

c. Mayang (bunga jambe) 1 pelepah

d. Daun-daunan : beringin, puring, ilalang, opo-opo/otok-otok, daun keluwih, daun Andong , semua dipasang kiri-kanan deretan wayang atau pada pintu masuk.

2. Hewan hidup : burung merpati (jantan betina), ayam  jantan dan betina , ikan lele sejodoh., bebek sejodoh.

3. Nasi Tumpeng/buceng 2 buah dengan panggang ayam dilengkapi lauk pauk (urap-urapan, ikan air tawar goreng, tahu, tempe goreng , rempeyek dll. Nasi (sego) golong 7 buah dengan lauknya.

4. Kupat dan lepet sagombyok (masing-masing lima buah)

5. Jajan pasar dalam satu asahan/wadah.

6. Bermacam buah-buahan (salak, pisang, apel, anggur, dll.) dalam  satu wadah

7. Pala kependem (singkong, ubi, talas, kacang tanah, kentang hitam semua direbus dan ditempatkan dalam satu wadah/asahan.

8. Mainan anak kecil misal boneka, payung,selendang, semuanya kecil, dll.

9. Alat rias : bedak, minyak wangi, sisir, lipstick, cermin dll.

10.5 macam warna Bubur lemu : merah. putih, hijau, kuning, hitam masing-masing 1 takir.

11.Kain batik (jarit) tiga macam, yaitu corak hitam, corak putih dan parang

12 Lilin (pengganti Damar Kambang) dan Yuswa pengganti kemenyan

13.Kembang setaman yang dicampur air dari 5 atau 7  macam asal-usul : air sumber,air hujan, air pancuran, air sungai, dan air dari tumbuhan (misal air kelapa), selain digunakan pada acara jamas mustaka, juga airnya sebagian dimasukkan dalam botol dan dibawa pulang peserta untuk mandi sekeluarga.

14.Sajen Dhalang dilengkapi kupat luwar yang berisi beras kuning dan uang logam.

 

     Catatan dari Eyang Darmosuwito (alm), seorang Dalang senior dari Surabaya yang berhak menyandang gelar sebagai Dalang Sejati. Makna dari masing-masing materi sajen akan dijelaskan di halaman lain.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar