Sejak lama kita sering mendengar pendapat bahwa Ilmu kebatinan yang umumnya dipelajari oleh kaum Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME dinilai negatif sebagai ilmu perdukunan, diambil dari asal kata Dukun yang diartikan dalam bahasa Jawa : "yen ora udhu ora dirukun" ( kalau tidak membayar/mengorbankan sesuatu, tidak akan dirukun dalam arti ditolong atau dikenal apalagi diperhatikan), dan kalimat itu ditujukan ke pada orang-orang "pintar" yang dianggap mampu melakukan hal-hal ghoib dalam memberikan pertolongan kepada siapa saja yang mengalami penderitaan, dengan sebelumnya harus membayar biaya tertentu yang disyaratkan termasuk mengadakan selamatan untuk mengundang roh-roh gaib.
Stigma semacam ini terlanjur tertanam di sebagian masyarakat kita yang memang masih terbelakang dalam pola pikirnya, untuk itu maka perlu pelurusan makna pada kata Dhukun itu sendiri.
Kata dukun berasal dari bahasa Persia, yakni dehqan atau dehqn, yang merujuk pada sosok cerdas yang menguasai keahlian khusus atau tabib. Seiring waktu, kata ini diserap ke dalam bahasa Melayu sebagai istilah untuk seseorang yang memiliki keahlian pengobatan. Dahulu, kata ini memiliki konotasi positif karena disetarakan dengan tabib atau dokter. Namun, seiring masuknya ilmu kedokteran modern di masa kolonial, maknanya bergeser menjadi peyoratif dan kini identik dengan hal-hal mistis atau klenik.
Menurut KBBI : Dukun adalah orang yang mengobati, menolong orang sakit, memberi jampi-jampi (mantra, guna-guna, dan sebagainya )
Merujuk pada pendapat di atas jelas seseorang akan mendapat predikat Dhukun apabila dia benar-benar terbukti berilmu tinggi dan luas atau ahli dalam hal-hal tertentu (kalau sekarang disetarakan dengan istilah Profesional).
Mengamati perilaku para penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME (apapun paguyubannya) secara umum mereka berpegang pada kalimat " Sepi ing pamrih rame ing gawe " dalam rangka " Memayu hayuning bawana". yang artinya kurang lebih ... dalam perbuatan selalu dilakukan sebanyak-banyaknya upaya tanpa perhitungan untuk keuntungan pribadi (bahkan seringkali berkorban) demi tercapainya tujuan akhir menyelamatkan dan membahagiakan isi dunia ini.
Jadi lebih tepatnya Kata Dhukun apabila artinya diurai (di kerata basa) adalah bahwa perilaku kaum Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME ...." Tansah udhu ambangun rukun" (selalu berkorban demi membangun kerukunan). Dan itu sudah terbukti secara nyata ketika kita mengamati perilaku kehidupan mereka (misalnya MLKI) yang selalu rukun bersatu walaupun terdiri dari banyak macam paguyuban/komunitas/etnis/bahasa dsb yang sekaligus percontohan konkrit dari Bhinneka Tunggal Ika sebagai pilar bangsa.
Stigma kedua yang seolah sudah menjadi dogma bagi masyarakat kita adalah bahwa Ilmu kebatinan itu "Ilmu Tua" yang hanya pantas dipelajari orang-orang tua dan tidak pantas dipelajari oleh yang muda. Pendapat ini jelas merupakan pemberangusan sekaligus upaya pemusnahan Ilmu kebatinan itu sendiri secara massif demi keuntungan sebagian pihak di negri ini.
Sayangnya malah sebagian besar dari anggota-anggota penikmat Ilmu kebatinan tersebut setuju dengan dogma ini, apalagi yang kebanyakan telah tenggelam dalam suasana "nikmat" yang cukup berakhir pada kata "Syukur"..... tidak perlu berpikir bagaimana cara mewariskannya pada generasi berikutnya, nanti kalau Tuhan berkenan kan akan tau sendiri.
Untuk memerangi dogma seperti di atas penulis ingin meluruskan pemahaman istilah "Ilmu Tua" tanpa merubah kata secuilpun. Yah, ilmu-ilmu kebatinan di tanah air ini memang tergolong "Ilmu Tua" artinya ilmu yang usianya sudah sangat tua, sudah ada ribuan tahun sebelum Masehi (ada kalender yang menyebutkan tahun ini tahun 8325 ada yang th.2937), bahkan sebelum agama-agama asing masuk ke Nusantara ini. Ilmu-ilmu yang pernah menghantar masyarakat negri ini membangun kejayaan di masa lampau lewat zaman-zaman keemasan Kutai Kertanegara, Tarumanegara, Sriwijaya, Medang, Mataram, Kahuripan, Singasari, Majapahit dst. Secuil ingatan masih tersisa, bahwa kekuasaan Majapahit Raya pernah meliputi Asia Tenggara (Malaysia,Kamboja, Pilipina) sampai Madagaskar. Menurut Arysio Santos bahkan jauh sebelum itu Nusantara ini pernah dihuni manusia-manusia super. (Atlantis: The Lost Continent Finally Found)
Ilmu-ilmu tersebut sengaja dihambat bahkan kalau perlu dimusnahkan dengan segala cara pada zaman penjajahan (kolonialis Belanda, Inggris, Jepang), literaturnya dirampas, masyarakatnya (pribumi) direndahkan martabatnya, diadu domba /dipecah belah, diintimidasi, sebagian artefaknya dibawa ke luar negri, sejarahnya dibelokkan dan dipalsukan, budayanya dikebiri dsb. Harapannya tentunya adalah supaya negeri yang kaya raya ini tetap terjajah dan terbelakang.
Marilah kita bangkitkan kesadaran kita bahwa kita ini sebenarnya keturunan dari manusia-manusia beradab dan berilmu tinggi, segala pendapat negatif yang berasal dari jaman penjajahan haruslah segera kita sisihkan, kita gali lebih dalam lagi ilmu-ilmu nenek moyang kita yang oleh Tuhan YME sengaja dihadirkan kembali lewat bertumbuh kembangnya Ilmu-ilmu kebatinan saat ini.
"Lair iku utusaning batin", hal-hal yang nampak terjadi itu dampak dari kondisi batin , jadi kalau kondisi batin kita semakin positif maka segala perbuatan dan produktifitasnya juga akan semakin meningkat dan berkualitas. Dalam lirik lagu Indonesia Raya juga terngiang kata ...bangunlah jiwanya bangunlah badannya... jadi dalam upaya membangun negara, utamakan dulu membangun spiritual SDMnya.
Ok, ilmu kebatinan memang ilmu tua yaitu ilmunya para nenek moyang kita yang pernah menghantar kejayaan negeri kita di mana pun tempatnya, di saat negeri-negeri lain masih terbelakang. Ilmu kebatinan itu untuk semua usia yang harus dipelajari sejak usia dini, seiring pelajaran coding yang harus dipelajari sejak kelas 5 SD.
"Awakening consciousness" telah dimulai di negeri ini, janji Sabdopalon mulai terbukti, jangan terbuai kenikmatan sementara yang dihasilkan oleh ilmu-ilmu import, kenalilah dan resapilah ilmu-ilmu lokal warisan nenek moyang kita yang telah membumi di negeri ini selama berpuluh abad yang lalu. Kolaborasikan dengan ilmu-ilmu baru yang lebih bermanfaat untuk kita abdikan di negeri ini.
Hapuskan stigma-stigma negatif yang selama ini di lekatkan pada ilmu-ilmu kebatinan nenek moyang kita, buktikan bahwa ilmu-ilmu ini jika dipelajari dan diterapkan benar-benar mampu merubah dunia menjadi lebih aman, maju tapi tetap harmonis dan lebih abadi. Tuhan membimbing kita semua.......... Rahayu..... Rahayu sagunging dumadi.