Kamis, 20 Agustus 2015

Secercah makna Ruwatan Sukerta

       Uwas iku Tiwas ! Begitu salah satu sabda suci yang terlontar tegas dari leluhur kita. Uwas dalam bahasa Jawa berarti kuatir atau ragu, Tiwas berarti celaka atau bahkan mati. Sedemikian tegasnya kalimat itu diungkap tentunya bukan tanpa sebab. Kita semua tahu bahwa keraguan atau kekuatiran adalah salah bentuk ketidak percayaan kita terhadap sesuatu. Di satu sisi memang seseorang terkadang perlu meragukan dan menguatirkan untuk melakukan suatu tindakan guna mewujudkan kehati-hatian, namun hal tersebut juga bisa berakibat  membatalkan tindakan tersebut sama sekali. Di sisi lain keraguan ataupun kekuatiran akan sesuatu justru dapat menyebabkan tidak fokusnya perhatian kita terhadap hal-hal lain yang sedang kita hadapi yang justru dapat mencelakai diri kita sewaktu-waktu.
Kekuatiran apabila dinilai dari sisi spiritual dapat juga sebagai pengukur sebesar apa keyakinan kita  kepada Tuhan YME. Semakin kita banyak kuatir maka semakin tipislah keyakinan/Iman kita terhadap adanya Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Melindungi dst.
Perihal rasa kuatir itu sendiri dapat muncul sewaktu-waktu atau bahkan sepanjang waktu apabila ada sesuatu kejadian yang kita anggap tidak/kurang wajar atau bahkan dari sesuatu yang istimewa. Contohnya pada anak yang terlahir cacat sejak lahir, siapapun yang terkait keluarga dengannya (Ayah, Ibu, saudara, Kakek, Nenek dst.) pasti akan menguatirkan segala gerak-geriknya sehari-hari termasuk kehidupannya di masa depan. Kekuatiran yang kemudian menimbulkan tindakan positip misalnya langsung memberikan fasilitas untk mengganti/ memenuhi segala kekurangan bagi si cacat sekalian memberikan pelatihan-pelatihan, sehingga si cacat mampu melakukan hal-hal sebagaimana orang yang tidak cacat, maka hal semacam itu akhirnya akan menghilangkan rasa kuatir keluarga, apalagi jika yang bersangkutan bahkan mampu memperlihatkan kelebihan-kelebihannya. Sebaliknya, dari kekuatiran itu pula mungkin yang timbul adalah tindakan-tindakan baik hati misalnya selalu menjaga agar si cacat tidak terjatuh, malah kalau bisa tidak usah bergerak, semua kebutuhannya ditolong/dilayani. Akibatnya si cacat untuk seterusnya tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa pertolongan orang lain, dan bahkan mungkin akan mudah terkena bencana/sial apabila tanpa orang lain di sisinya.
Bagi orang Jawa, upaya untuk menghapus rasa kuatir tersebut diawali dari mendeteksi akar penyebabnya yaitu kondisi  sejak lahir, kondisi saat masih kecil sampai remaja ataupun peristiwa-peristiwa unik dan tidak biasa, yang dialami oleh seseorang dalam kehidupannya. Para penyandang rasa kuatir (penyandang penyebab kesialan) tersebut disebut Janma Sukerta, yang dianjurkan untuk mengikuti acara ritual Ruwatan Sukerta.
Dengan lenyapnya segala bentuk kekuatiran/keraguan diharapkan munculnya generasi yang penuh percaya diri serta penuh yakin akan adanya Tuhan YME yang telah menciptakan segalanya sekaligus memproses keseluruhannya menuju arah kesempurnaan tanpa batas.
kayubiz.blogspot.com
Bagi pembaca yang berminat mengikuti atau mengikut sertakan putra/putrinya dalam Ruwatan Sukerta Murwokolo tahun ini silahkan klik di sini

Selasa, 30 September 2014

SURO sebagai awal penanggalan Jawa


       Di dalam sistem kalender atau penanggalan Jawa kita mengenal nama-nama bulan yaitu Suro, Sapar, Mulud, Ba'da Mulud, Jumadil Awal, Jumadil akir, Rejeb, Ruwah , Pasa, Syawal, Sela, Besar. Nama-nama bulan seperti yang penulis sebutkan ini menurut sejarah, barulah dimunculkan setelah Sri Sultan Agung Hanyakrakusuma seorang raja Mataram yang memerintah antara tahun  1613 - 1645   berhasil menciptakan suatu sistem penanggalan baru yang merupakan penggabungan dari dua sistem penanggalan yaitu Tahun Saka Jawa dengan tahun Hijriyah yang berasal dari kebudayaan Islam. Penulis katakan sebagai tahun Saka Jawa karena tahun tersebut juga merupakan perpaduan antara tahun Jawa yang asli dengan tahun Saka dari Hindustan. 
        Peristiwa penciptaan tahun Jawa karya Sultan Agung ini terjadi bertepatan dengan tanggal 1 Suro tahun Alip 1555 dan tanggal 1 Muharam tahun 1043 Hijriyah, tepat pula dengan tanggal 8 Juli 1633, harinya Jum'at Legi . Kalender Jawa ini disebut juga kalender Sultan Agung atau Anno Javanico (AJ).
      Bulan Suro pada akhirnya menjadi sangat penting dalam kehidupan masyarakat Jawa khususnya dan Nusantara pada umumnya, mengapa demikian ?? Seiring dengan perkembangan jaman dimana identitas masyarakat penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME (yang dulunya adalah kelompok kaum kebatinan/kejiwaan/kerohanian) diakui melalui peraturan perundang-undangan baik yang bersumber pada UUD 1945 maupun Tap MPR dsb. maka telah juga disepakati bahwa 1 Suro dijadikan hari besar bagi para Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME di Indonesia yang pelaksanaannya selalu bersamaan dengan 1 Muharam pada penanggalan Hijriyah.
        Sesuai dengan kebiasaan yang terjadi sejak tahun baru Jawa karya Sri Sultan Agung belum dijalankan bahkan sejak tahun Jawa yang asli belum tersentuh budaya Hindu (tahun Saka), maka di bulan awal setiap tahun baru selalu diiringi dengan ritual-ritual sakral sebagai bentuk harapan bagi kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang, untuk itulah maka setiap bulan Suro selalu diisi dengan perilaku-perilaku ritual yang dilakukan baik secara mandiri maupun secara berkelompok atau bersama-sama. 
Sesaji Suro misalnya yang selalu mengisi peringatan 1 Suro, adalah suatu bentuk ritual yang mana saat itu digelar aneka macam sajian makanan maupun minuman yang bentuknya bermacam-macam dengan namanya masing-masing, serta benda-benda seperti keris,  tombak dan payung pusaka, juga buah-buahan, aneka bunga dll. Sesaji tersebut sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengundang roh-roh orang yang sudah meninggal ataupun dewa-dewa, melainkan untuk dijadikan sarana mengingat jasa-jasa para leluhur atau nenek moyang bangsa serta melestarikan ajaran para leluhur tersebut utamanya yang berhubungan dengan pengungkapan asal-usul kehidupan manusia sekaligus mengingatkan tugas-tugas mulia yang harus dilakukan manusia yang percaya dan tunduk patuh kepada Tuhan Yang Maha Esa . Jadi Aneka macam bentuk dan warna makanan, minuman, ataupun benda-benda yang jumlahnya tidak kurang dari 40 macam tersebut merupakan simbol-simbol perilaku kehidupan yang baik dan luhur yang selalu didambakan setiap manusia yang ingin hidup bahagia sejahtera dalam bimbingan Tuhan Yang Maha Esa. Untuk lebih jelasnya hal tersebut akan diuraikan pada halaman : Makna Sesaji Suro.
Selain pembuatan sesaji biasanya masyarakat kebanyakan juga menyelenggarakan selamatan (berdo'a bersama untuk memperoleh keselamatan dalam mengarungi roda kehidupan) yang dilanjutkan dengan acara makan bersama sebagai lambang persaudaraan. Ada pula yang secara perorangan membuat bubur Suro yang kemudian dibagikan kepada para tetangga terdekat. Bagi keluarga mampu biasanya di bulan sakral Suro ini juga menyelenggarakan ritual Ruwatan Sukerta Murwokolo sebagai salah satu cara untuk ngruwat (menghilangkan) Sukerta (penyebab kesialan dalam hidup) bagi anggota keluarga yang dianggap menyandang sukerta. Seringkali acara ruwatan seperti ini dilakukan dengan pagelaran wayang kulit yang mengambil judul/lakon Murwokolo yaitu lahirnya Batara Kala (Dewa penimbul bencana)
Pelaksanaan Ruwatan seperti tersebut di atas juga dapat ditujukan pada hal-hal yang lebih luas misalnya Ruwatan Desa, Ruwatan Negara atau mungkin juga ruwatan untuk satu perusahaan agar keselamatan dan kesejahteraan selalu menyertai seluruh isi perusahaan baik si empunya maupun para karyawannya.

Saat ini pelaksanaan Ruwatan Sukerta seringkali diselenggarakan secara massal dengan maksud agar dapat diikuti oleh banyak peserta sekaligus, selain menyingkat waktu juga dimaksudkan agar dapat diikuti secara bergotong royong sehingga biaya yang dikeluarkan menjadi relatif terjangkau bagi banyak orang. Untuk dapatnya Anda atau keluarga Anda memahami makna atau ingin mengikuti / menjadi peserta dalam acara Ruwatan Sukerta tersebut silahkan klick di sini.
Adapun jika Anda ingin mengikuti alur ceritanya bisa dengan klick  Yang Ini

Perilaku ritual bagi masing-masing pribadi yang masih berpegang teguh pada sendi-sendi budaya asli (Kejawen umumnya) dilakukan baik secara pribadi maupun berkelompok, ada dengan cara berpuasa, melakukan tarak dengan menghindari makanan-makanan tertentu (mutih, ngrowod dsb.), bertapa, bersemedi di tempat tertentu (kungkum, ngebleng, pati geni Jw.) dll.
Bagi para pemilik pusaka biasanya juga menyelenggarakan Jamasan Pusaka sebagai sarana untuk membersihkan dan memelihara pusaka tersebut dengan cara tradisional sebaik-baiknya, selain sebagai penghormatan bagi pembuatnya juga guna melestarikan nilai-nilai sejarah, nilai-nilai seni serta falsafah atau pesan-pesan suci yang terkandung di dalamnya.

Sudah tentu tidak semua pemilik pusaka mampu melakukan Jamasan Pusaka tersebut secara pribadi, kebanyakan dari mereka akan mencari orang lain yang dianggap paham dalam melakukan jamasan tersebut. Sayangnya orang-orang yang memiliki kemampuan seperti ini saat ini belum banyak bahkan semakin langka.
Namun.... Anda tidak perlu kuatir.... Bagi Anda yang benar- benar ingin benda-benda pusakanya terawat dengan baik sehingga kandungan energinya pun masih bisa dimanfaatkan, pada setiap bulan Suro kami juga melayani perawatan pusaka berupa Jamasan Pusaka Massal.
Pelaksanaan acara tersebut akan diuraikan di halaman lain dalam blog ini pula.